Selasa, 31 Agustus 2010

Fenomena Pengemis di Bulan Ramadhan

Bulan Ramadhan adalah bulan penuh berkah, dan merupakan bulan yang paling dinanti oleh seluruh umat Muslim. Keindahan ramadhan mengajak setiap umat manusia untuk berbagi dengan sesamanya dan berlomba untuk megumpulkan pahala. Sayangnya, hal ini diiringi oleh meningkatnya banyak sindikat pengemis untuk meraup penghasilan yang lebih banyak dari biasanya di banyak sudut kota Surabaya. Bahkan, momen ramadhan ini sengaja dimanfaatkan sebagian orang untuk berprofesi sebagai pengemis musiman. Mereka datang dari daerah-daerah disekitar Surabaya, yang mungkin sebagian besar penduduknya sudah melakukan profesi pengemis ini dan memanfaatkan bulan ramadhan.
Pemerintah daerah Surabaya melakukan berbagai cara untuk menanggulangi ledakan pengemis dadakan dibulan ramadhan ini dengan melakukan berbagai razia ditempat-tempat ibadah, pinggir jalan, dan pusat kota. Tetapi sepertinya langkah ini tidak cukup efektif untuk membendung ledakan urbanisasi pengemis ini. Penyusunan rancangan peraturan daerah tentang anak jalanan, pengemis, dan gelandangan pun tidak banyak membuahkan hasil. Hal ini hanya akan memicu kontroversi tentang larangan berbuat baik manusia kepada manusia lain. Sanksi pidana yang diberikan kepada pemberi sedekah pun dianggap tidak sesuai dengan hak asasi manusia. Koordinasi dengan LSM dan dinas sosial kota Surabaya, juga tidak menjamin bahwa pengemis yang sudah mendapatkan bimbingan dan pelatihan tidak akan mengulangi hal tersebut atau bahkan berhenti menjadi pengemis.
Cara-cara yang dilakukan, seperti razia, penyusunan Perda, koordinasi dengan berbagai LSM dan dinas sosial, juga langkah-langkah untuk menanggulangi masalah tahunan yang melanda Surabaya hanyalah bersifat sementara, dan bukan merupakan cara yang dapat memberantas banyaknya pengemis secara holistik. Akan lebih baiknya, kita perlu meneliti secara keseluruhan penyebab maraknya “profesi kecil” yang menguntungkan beberapa sindikat didaerah asalnya. Sehingga banyaknya kucuran dana yang dikeluarkan untuk menangani persoalan ini tidak sia-sia, dan benar-benar memperoleh hasil yang maksimal.
Hal pertama yang menyebabkan meningkatnya jumlah pengemis diberbagai kota dikarenakan oleh faktor ekonomi yang tidak merata. Hal ini merupakan hal vital bagi keperluan manusia sehari-hari. Harga kebutuhan pokok yang melonjak tajam, terutama di bulan ramadhan ini, tidak diiringi dengan kesejahteraan masyarakat. Hal kedua adalah pola pikir masyarakat yang dangkal. Mereka menggunakan cara-cara instan untuk bertahan hidup, tanpa harus bersusah payah untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka. Sehingga, dengan memanfaatkan hati nurani yang dimiliki oleh setiap manusia, dengan bermodalkan pakaian compang-camping, luka buatan, dan wajah memelas, mereka hanya duduk dipinggir jalan dan menunggu belas kasih dari orang lain.
Ini memang merupakan suatu fenomena yang tidak dapat dihindarkan. Memang ironis melihat kondisi seperti ini, ketika seseorang memanfaatkan niat baik dari orang lain bahkan menjadikannya sebagai suatu “profesi” yang dilakukan hampir setiap hari. Apa jadinya bangsa Indonesia yang besar ini jika memiliki pola pikir yang instan tanpa perjuangan yang berarti ? Maka dari itu, untuk menanggulangi masalah ini diperlukan koordinasi dari jajaran pemerintahan juga masyarakat disekitarnya. Kita setidaknya lebih pandai dalam bersedekah. Banyak tempat untuk menyalurkan amal kita, seperti panti sosial, tempat ibadah, dan yayasan-yayasan sosial lainnya. Dengan begitu, kita dapat memberi sedikit pelajaran pada para pengemis itu untuk tidak menggantungkan hidupnya pada belas kasihan orang semata. Untuk itu kita sekaligus berpartisipasi untuk tidak merusak moral bangsa dengan cara instan dan niat baik di bulan suci ramadhan dapat terlaksana.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar